Tampilkan postingan dengan label Dunia Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Januari 2011

10 Penyakit Misterius yang belum diketahui secara jelas

Biasanya, tiap penyakit diketahui sebabnya. Karena itu, obatnya bisa ditemukan. Namun ada beberapa penyakit yang tak diketahui sebabnya dan tak ada obatnya. Ada juga yang diketahui sebabnya, namun obatnya belum juga ditemukan.

Berikut 10 penyakit yang misterius, tak diketahui sebabnya atau belum ditemukan obatnya.

1. AIDS
Nama aslinya Acquired Immune Deficiency Syndrome alias turunnya kemampuan imun tubuh. Sehingga tubuh akan lemah dengan segala jenis penyakit ringan. Sejak dua puluh lima tahun sejak pertama kali diidentifikasi, masih belum ditemukan obat untuk penyakit in. AIDS masih duduk sebagai pembunuh manusia yang paling ampuh, terutama di negara-negara berkembang. Penyakit ini diduga dimulai dari simpanse dan melompat ke manusia. Antar manusia menular melalui hubungan seks dan penggunaan jarum secara bergantian.

2. Alzheimer
Alzheimer adalah gangguan otak degeneratif yang memiliki gejala berbeda di masing-masing penderitanya. Biasanya ditandai dengan bingung, lupa atau pikun sering mempengaruhi kebanyakan orang di usia tua mereka. Penyebab yang tepat tidak dimengerti dan tidak dapat diobati secara efektif.

3. Demam
Kalangan medis masih sedikit tahu soal apa sebenarnya demam itu. Bahkan walau satu miliar kasus diperkirakan di Amerika Serikat setiap tahun, dokter masih tahu sedikit tentang hidung meler, kenapa dingin merangsang batuk hingga akar penyebab sakit kepala. Sering kali, bukan resep antibiotik yang bisa membantu penyakit ini reda, namun menunggu hingga reda sendiri dan makan sup ayam.

4. Flu Burung
Manusia tidak memiliki kekebalan terhadap virus flu yang kuat dibawa oleh burung. Usai tertular dari burung, virus ini dapat menular antar manusia. Tingkat kematian untuk terinfeksi manusia adalah sekitar 50 persen.

5. Pica
Orang yang didiagnosis dengan Pica memiliki dorongan tak terpuaskan untuk makan zat non-makanan seperti kotoran, lem kertas, dan tanah liat atau yang lainnya. Meskipun diyakini dihubungkan dengan kekurangan mineral, pakar kesehatan tidak menemukan penyebab pasti dan obat untuk gangguan aneh ini.

6. Gangguan autoimun
Sebuah istilah untuk sejumlah penderitaan termasuk penyakit Lupus atau Arthithis Rhematoid. Pada penderita gangguan autoimun, imun tubuh justru mendeteksi organ-organ tubuh sebagai musuh, sehingga organ organ tubuh malah diserang. Maka organ tubuh jadi lemah bahkan rusak. Tak diketahui penyebabnya, dan dokter hanya bisa mengurangi gejalanya.

7. Skizofrenia
Para ahli menganggap penyakit ini paling membingungkan dari jenis gangguan mental. Penderita biasanya tak mampu untuk secara logis membedakan antara realitas dan fantasi. Gejalanya mulai liar, delusi, halusinasi, bicara tidak teratur, kurangnya motivasi atau emosi.

8. Penyakit Creutzfeldt-Jakob
Penyakit ini adalah versi dari gangguan otak langka, yang lebih dikenal "Mad Cow" atau sapi gila. Penyakit ini diduga berasal dari konsumsi daging sapi yang terkontaminasi. Pada penyakit ini reaksinya cepat. Kalangan medis belum mengetahui sebab utamanya dan belum bisa mencegah.

9. Sindrom Kelelahan Kronis
Kelelahan kronis adalah gejala fisik yang secara medis bisa dijelaskan. Namun pada sindrom kelelahan kronis, pasien lebih dari sekadar merasa lelah, pasien sering tidur, bahkan selama berhari-hari pada suatu waktu.

10. Penyakit Morgellons
Ini penyakit kulit. Gejalanya mirip dalam film fiksi. Penderita mengeluh kulit rasanya seperti tersengat, ruam atau seperti luka. Di bawah kulit muncul serat aneh. Beberapa di komunitas medis menyalahkan penyakit ini terkait pada delusi psikotik, tetapi yang lain mengatakan gejala yang sangat nyata. Tak diketahui penyebabnya, apalagi obatnya.

sumber: http://77hal.blogspot.com/2011/01/10-penyakit-misterius.html
Read More >>

Sabtu, 31 Juli 2010

Terpecahkan, Kekuatan Rahang Ikan Paus

Untuk menangkap makanan, paus bungkuk menyelam dengan kecepatan tinggi dengan mulut terbuka untuk menelan sejumlah besar air penuh dengan mangsa.

Sekarang ilmuwan telah mendeteksi adaptasi tulang unik yang memungkinkan paus melakukan hal ini tanpa terluka.

Penelitian melibatkan paus rorqual, keluarga spesies yang mencakup paus bungkuk dan ikan paus biru, binatang terbesar di bumi.

Makhluk ini memangsa ikan kecil dan udang krill dengan cara menghisap di dalam air saat menyelam jauh di dalam laut.

Paus memiliki jaringan elastis khusus yang melekat pada rahang yang disebut lemak alur ventral.

Ketika mereka merendahkan rahangnya ke sudut ekstrim dan berenang sangat cepat, kekuatan tarik pada lapisan lemak ini bisa memperluas cakupan volume yang bisa ditangkap ikan paus itu.

Cara ini memungkinkan ikan paus rorqual mendapat cukup makanan dalam beberapa jam yang bisa mmenuhi kebutuhan dalam sehari.

Namun cara makan seperti itu memerlukan usaha keras. Tekanan ekstrim dari air menarik lapisan lemak dan menjadi tarikan sangat kuat pada rahang paus disebut mandibula.

Para ilmuwan kini yakin bagaimana mandibula dapat menahan beban tersebut.

"Kami tertarik untuk mengetahui apakah memiliki desain mekanik khusus yang memungkinkan tidak istirahat selama tekanan," kata Daniel J Field mahasiswa zoologi University of British Columbia di Vancouver, Kanada.

"Fakta bahwa mereka dapat menahan kekuatan raksasa tersebut benar-benar luar biasa."

Field bekerja dengan atasannya Robert Shadwick dan peneliti lainnya untuk mengukur tulang rahang bawah paus.

Tim ini menggunakan proses scanning sinar X untuk menghitung geometri tulang rahang secara tiga-dimensi dan distribusi kepadatannya.

Para ilmuwan menemukan bahwa rahang ikan paus terbentuk dengan cara yang unik, berbeda dengan rahang manusia.

Secara khusus, para ilmuwan mengukur fitur yang disebut kekakuan lentur, kombinasi dari kepadatan tulang yang tinggi dan luas penampang besar yang memungkinkan tulang menahan lentur.

Para peneliti menemukan bahwa rahang paus terbentuk dengan pola kekakuan lentur unik. Tertinggi ada di pinggiran melekat pada tengkorak, dan terendah di pusat yang dioptimalkan untuk melawan tekanan saat menyergap makanan.
Read More >>