Tampilkan postingan dengan label Fakta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Mei 2010

Dikira Diving, Pemain Jatuh Meninggal Karena Serangan Jantung Diberi Kartu Kuning oleh Wasit

WADOW!!.. Dikira Diving.. Pemain Jatuh Meninggal Karena Serangan Jantung Diberi Kartu Kuning oleh Wasit.. Seorang pemain sepak bola diperingatkan oleh wasit dengan sungguh-sungguh untuk tidak melakukan diving sebenarnya terjatuh dan mati karena serangan jantung. Goran Tunjic, bek 32 tahun bermain untuk Mladost Kroasia, runtuh dan jatuh ke tanah setelah diganjal di menit ke-35 pertandingan melawan rival lokal Hrvatski Sokola.
Wasit, yang telah memperingatkan tim di kamar ganti sebelum kick-off bahwa dia akan bertindak dengan tegas selama pertandingan, segera berjalan menyeberangi lapangan ke pemain yang jatuh dan melambaikan kartu kuning padanya.

Pemain Kroasia Goran Tunjic roboh dan meninggal di lapangan minggu ini. Para pendukung Sokola bersorak tapi pemain yang berkumpul di sekitar melihat Tunjic sedang dalam masalah serius. Wasit menyadari kesalahannya dan meminta bantuan medis.. Tunjic yang pingsan digotong dari lapangan dan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Tapi ia dinyatakan meninggal sesampainya di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa ia telah hampir pasti meninggal di lapangan akibat serangan jantung. Dokter berusaha membantunya tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, “kata juru bicara klub, pemain tersebut tidak memiliki masalah kesehatan sebelumnya. “Dia baru saja jatuh dan mati di tempat.”

Pertandingan Divisi liga kelima berakhir, dengan skor 0-0. Ini bukan pertama kalinya seorang pemain meninggal di lapangan sepak bola. Ada beberapa kasus-kasus sebelumnya, mungkin yang paling akrab untuk penggemar sepak bola kematian Marc-Vivien pemain Premier Liga Inggris.

Dia mencatat rekor transfer £ 4.200.000 untuk West Ham, tapi kemudian pindah ke Manchester City. Pada usia 28, ia bermain untuk negara asalnya Kamerun di Piala Konfederasi FIFA, turnamen antara juara kontinental. Pada menit 72 , semi-final melawan Kolombia dimainkan di Lyon, Perancis, ia ambruk di pusat lingkaran, dengan tidak ada pemain lain di dekatnya.

Meskipun berupaya untuk menyadarkannya, ternyata ia telah meninggal. Laporan medis kemudian menunjukkan dia meninggal karena kondisi kelainan jantung yang jarang dikenal dan akan meningkatkan resiko kematian mendadak selama latihan fisik.

Pada bulan September 1990, David Longhurst, 25 tahun, dari York City runtuh dengan serangan jantung dan meninggal di lapangan dalam pertandingan timnya dengan Lincoln City. Permainan ditunda dan York City memberikan penghormatan kepada pemain tersebut.
Read More >>

Kamis, 22 April 2010

Soekarno, Presiden dengan 26 Gelar Honoris Causa

Ada saja alasan mengapa Sukarno harus gemar membaca. Ada saja alasan mengapa Sukarno harus rajin belajar. Dan… ada saja cara Sukarno untuk belajar cepat mengenai segala sesuatu hal.

Didorong ego yang meluap-luap untuk bisa bersaing dengan siswa-siswa bule, Bung Karno sangat tekun membaca, dan sangat serius belajar. Di HBS Surabaya misalnya, dari 300 murid yang ada, hanya 20 murid saja yang pribumi. Satu di antaranya adalah Sukarno. Sekalipun sulit menarik simpati teman-teman sekelas yang keturunan penjajah, setidaknya ada satu dua guru,yang menaruh rasa sayang kepadanya.

Dari simpati gurunya, tak jarang, ia mendapat fasilitas lebih untuk bisa ‘mengacak-acak’ perpustakaan dan membaca segala buku, baik yang ia gemari maupun yang tidak ia sukai. Lantas, manakala problem berbahasa Belanda menghambat rasa haus ilmunya, ia pun sudah punya jalan pintas: Merayu noni Belanda sebagai pacarnya. Berpacaran dengan noni Belanda, adalah cara praktis lekas mahir berbahasa Belanda. Mien Hessels, adalah salah satu pacar Bung Karno yang berkebangsaan Belanda.

Usia belum genap 16 tahun, Bung Karno sudah membaca karya besar orang-orang besar dunia. Di antaranya, ia mengagumi Thomas Jefferson dengan Declaration of Independence yang ditulis tahun 1776. Sukarno muda, juga mengkaji gagasan-gagasan George Washington, Paul Revere, hingga Abraham Lincoln.

Tokoh pemikir bangsa lain, seperti Gladstone, Sidney dan Beatrice Webb juga dipelajarinya. Ia mempelajari Gerakan Buruh Inggris dari tokoh-tokoh tadi. Tokoh Italia? Ia sudah bersentuhan dengan karya Mazzini, Cavour, dan Garibaldi. Tidak berhenti di situ, Sukarno bahkan sudah menelan habis ajaran Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin. Semua tokoh besar tadi, menginspirasi Sukarno muda.

Penelusuran Bung Karno terhadap karya besar orang besar, tidak pernah berhenti. Alhasil, pernah dalam suatu ketika, saya mendapat copy dokumen barang-barang milik Bung Karno di Istana Negara, yang diinventarisasi oleh aparat negara, sesaat setelah ia digulingkan. Dari ribuan item yang saya cermati, hampir 70 persennya buku. Sisanya: pakaian, lukisan, mata uang receh, satu potong bra dan satu helai sapu tangan wanita…. Ya, harta Bung Karno terbesar memang buku.

Episode kehidupannya yang lain, mengisahkan betapa dalam setiap pengasingan dirinya, baik dari Jakarta ke Ende, dari Ende ke Bengkulu, maupun dari Bengkulu kembali ke Jakarta, bagian terbesar dari barang-barang bawaannya adalah buku. Semua itu, belum termasuk yang dirampas dan dimusnahkan penguasa penjajah.

Apa muara dari kisah ini? Sejatinya hanya untuk memperteguh judul di atas: Presiden dengan 26 Gelar Doktor Honoris Causa. Ya, itulah Sukarno, Presiden Republik Indonesia yang pertama. Itulah jumlah gelar doktor yang ia terima dari seluruh penjuru dunia, 26 gelar doktor HC, rinciannya, 19 dari luar negeri, 7 dari dalam negeri.

Yang pertama kali memberi gelar doktor kepada Bung Karno bukan perguruan tinggi Indonesia, melainkan Filipina: Far Eastern University, Manila. Sedangkan perguruan tinggi Indonesia pertama yang memberinya gelar doktor HC adalah Universias Gadjah Mada Yogyakarta pada 19 September 1951.

Adapun yang tercatat pertama kali memberinya gelar doktor HC di bidang Ilmu Pengetahuan Teknik adalah Universitas Berlin, pada 23 Juni 1956. Dalam bidang yang sama, disusul Universitas Budapest pada 17 April 1960, selanjutnya barulah almamaternya, ITB pada 13 September 1962.

Catatan menyebutkan pula, Universitas Islam pertama yang menganugerahkan gelar doktor HC buat Bung Karno adalah Universitas Al Azhar, Kairo pada 24 April 1960 dalam ilmu Filsafat. Kemudian, IAIN Jakarta dalam Ushuludin Jurusan Dakwah pada 2 Deember 1963, disusul Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk Falsafah Ilmu Tauhid pada 1 Agustus 1965.

Negara-negara asal perguruan tinggi yang menganugerahkan gelar Doktor HC berturut-turut adalah Filipina, Amerika Serikat, Kanada, Jerman Barat, Uni Soviet, Yugoslavia, Cekoslovakia, Turki, Polandia, Brazil, Bulgaria, Rumania, Hongaria, RPA, Bolivia, Kamboja, dan Korea Utara.

Adapun perguruan tinggi nasional yang memberikan gelar Doktor HC buat Bung Karno adalah: 1). Universitas Gadjah Mada (19 September 1951) dalam Ilmu Hukum; 2). ITB (13 September 1962) dalam Ilmu Teknik; 3). Universitas Indonesia (2 Februari 1963) dalam Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan; 4). Universitas Hasanuddin (25 April 1963) dalam Imu Hukum; 5). IAIN Jakarta (2 Desember 1963) dalam Ushuludin jurusan Dakwah; 6). Universitas Padjadjaran (23 Desember 1964) dalam Ilmu Sejarah; 7). Universitas Muhammadiyah (1 Agustus 1965) dalam Falsafah Ilmu Tauhid.

Sependek pengetahuan saya, Sukarno-lah presiden yang menerima gelar Doktor Honoris Causa terbanyak. Bukan hanya terbanyak, melainkan dari ragam ilmu yang beragam, mulai dari ilmu teknik, sosial kemasyarakatan, hukum, filsafat, agama, dll. Itu adalah satu sisi kehidupan Bung Karno, dari ribuan sisi yang dimilikinya.
Read More >>